hubungan as turki

Sang Pastur Dibebaskan, Hubungan AS-Turki akan Membaik?

Posted on

Beberapa saat ini dunia internasional dipertontonkan aksi yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dengan Turki yang sedang melakukan perang dagang. Amerika merasa marah atas tindakan Turki yang memenjarakan seorang pastur berkewarganegaraan AS atas tuduhan spionase dan keterlibatannya dalam upaya kudeta pada Juli 2016 lalu.

Andrew Brunson seorang pastor dari North Carolina merupakan aktor pemicu perang dagang antara AS dengan Turki ini. Turki menahan Brunson pada Oktober 2016 dengan tuduhan keterkaitannya dengan kelompok yang hendak melakukan kudeta terhadap Presiden Erdogan. Pastur Brunson sudah menetap di Turki selama lebih dari 20 tahun. Presiden AS, Donald Trump menyebut Brunson sebagai “great Christian”.

Keputusan Turki tersebut membuat Presiden Trump merasa risau, akhirnya pada Agustus 2018, Trump meminta dua petinggi pemerintahan Presiden Erdogan diberikan sanksi, yakni menteri dalam negeri dan menteri hukum dan keadilan. Namun hukuman terhadap kedua petinggi pemerinthanannya tidak membuat keadilan hukum ditumbangkan, Erdogan tidak bergeming.

Melihat respon Presiden Turki yang seakan menyepelekan, sanksi lanjutan pun diberlakukan. Presiden AS tersebut menaikan tarif impor bagi baja dan aluminium yang berasal dari Turki. Namun Erdogan bukanlah seorang yang mudah untuk ditekan, apalagi ditekan oleh negara lain. Bukannya Erdogan melemah, seperti yang diharapkan oleh Trump, namun yang terjadi justru sebaliknya, Erdogan cenderung bersikap menantang sanksi yang diberlakukan terhadap negaranya oleh AS tersebut. Erdogan berjanji untuk memboikot produk dari Apple (raksasa teknologi dari AS) serta produk-produk lainnya. Turki juga memberlakukan kenaikan tarif impor untuk produk-produk yang berasal dari AS sperti mobil (120%) dan alkohol (140%).

Kenapa Brunson Begitu Penting

Andrew Brunson sudah dua tahun ini ditahan oleh otoritas Turki atas keterlibatannya dalam gerakan Gulen yang menurut pemerintahan Turki merupakan kelompok teroris. Pemerintahan Erdogan menuduh bahwa kelompok tersebut merupakan dalang dibalik upaya kudeta terhadap pemerinthannya pada Juli 2016 lalu. Gulen atau Fethullah Gulen merupakan keturunan Turki yang sekarang menetap di Pennsylvania, AS. Ia dianggap sebagai orang yang memiliki pengaruh kuat di Turki setelah Erdogan.

Gerakan Gulen dikenal di Turki dengan nama Hizmet yang berarti “pelayanan”. Hizmet mendirikan banyak sekolah di seluruh Turki dan beberapa negara di dunia. Pada dasarnya Erdogan dan Gulen memiliki kesamaan, yakni keduannya sama-sama menentang sekularisme hanya pendekatannya saja yang berlainan.

Erdogan melihat bahwa Brunson bisa dijadikan penawaran kepada AS untuk mengekstradisi Gulen ke negaranya. Para pengamat banyak yang berhipotesisi bahwa Turki tengah memainkan “hostage diplomacy” atau diplomasi sandera. Namun sebagaian besar dari mereka lupa atau kalau bisa disebut “tidak mau” untuk menganalisis alasan mengapa Pastur Brunson begitu penting bagi AS.

Kesalahan Erdogan Sesungguhnya

Menurut Robert Fisk, seorang kolumnis Indepndet menyebut bahwa dosa sesungguhnya Erdogan kepada AS bukanlah menahan Pastur Brunson, melainkan hal lain. Misalnya seperti Erdogan membeli sistem pertahanan misil Rusia S-400, Erdogan juga menolak untuk mendukung aliansi AS kelompok Kurdi yang menurut pemerinah Turki dicap sebagai kelompok teroris.

Dosa lain pemerintahan Erdogan terhadap AS juga dengan tindakannya yang membolehkan pesawat yang penuh dengan senjata milik kalompok Islamis untuk mendarat di wilayahnya di perbatasan antara Turki-Suriah. Pembangkangan Turki semakin menjadi tatkala negara itu diketahui membantu Iran dengan mengimpor minyak dari negara rival abadi Arab Saudi tersebut. Iran kala itu sedang disanksi oleh AS.

Berbagai tindakan pembangkanagan tersebutlah yang menurut Fisk menjadi alasan sesungguhnya dihukumnya Turki oleh AS. Dan Brunson menjadi alat untuk mejastifikasi tidakan tersebut di mata publik, baik di AS maupun di dunia internasional.

Dibebaskannya Pastur Brunson akan Membuat Hubungan Membaik?

Pada Jum’at kemarin (12/10), Pengadilan Turki mengumumkan dibebaskannya Pastur Andrew Brunson,yang merupakan akhir dari 24 bulan penahanannya. Hal ini menandai mendinginnya pertikaian antara AS dangan Turki.

Akhirnya sang pastur bisa kembali pulang ke AS. Sekembalinya ia di AS, Presiden Trump mengundangnya untuk datang ke Gedung Putih. Banyak pengamat dan media massa Barat mengatakan bahwa keputusan tersebut merupakan keberhasilan dari upaya yang dilakukan Presiden Trump demi untuk membebaskan sang pastor.

Pasca disanksinya Turki bertubi-tubi oleh AS, negara itu memang mengahdapi krisis ekonomi yang cukup serius. Keputusan Turki untuk membebaskan Brunson nampaknya sesuai dengan prediksi banyak pihak. Hal ini seirama dengan apa yang dituliskan oleh Henri Barkey dalam halaman Time.com (12/10).

Selain itu, Barkey juga menganggap bahwa keputusan dibebaskannya Brunson bukan karena ia di mata pengadilan Turki dianggap tidak bersalah, melainkan karena kekhawatiran Pemerintah Turki akan memburuknya Lira (mata uang Turki). Namum pertanyaannya apakah ketika Pastur Brunson dibebaskan, maka akan secara otomatis mengembalikan hubungan Turki-AS seperti sedia kala?

Turki dan AS merupakan satu aliansi dalam keanggotaanya di pakta pertahanan NATO. Secara teori, negara yang satu aliansi, apalagi aliansi pertahanan, maka seharusnya mereka menjalin hubungan yang erat. Namun kasus Amerika dan Turki berbeda (atau Turki dan Barat secara umum), Turki seakan-akan membangkang dari aliansinya di Barat. Misalnya seperti kedekatannya dengan Rusia dan Iran yang merupakan dua negara rival abadi Barat.

Banyak alasan bagi AS untuk menghukum Sang Pembangkang Turki (dilihat dari sudut pandang AS), mungkin dalam waktu dekat ini hubungan kedua negara akan mencair. Namun dalam jangka panjang, Turki pasti akan memilih jalan berbeda dari apa yang diinginkan oleh AS. Terlebih lagi jika negara ini terus di bawah kepemimpinan Erdogan yang secara nilai dan prinsip bertolak belakang dengan Amerika Serikat.