Saudara Kita Berulah

Posted on

Tidak habis-habisnya korban berjatuhan dalam konflik berkepanjngan di Yaman. Agresi Saudi terhadap sesama saudaranya, Yaman, tidak membuat mayoritas umat Islam di negeri ini bereaksi. Hal ini tentu saja berbeda dengan apa yang menimpa terhadap rakyat di Suriah.

Rakyat Yaman menangis, namun dunia diam. Bahkan saudara seiman pun ikut diam. Entah apa yang tengah menimpa kita, bisukah kita? tulikah kita? atau bahkan buta sehingga tidak memberikan reaksi terhadap penderitaan rakyat Yaman?

Seringkali kita berteriak “Bedebah Israel” atau “Bedebah rezim al Assad” saat mereka membantai umat muslim Palestina dan Suriah. Kita juga lantang untuk berteriak “Hancurlah Amerika” tatkala negara itu mengagresi Iraq tanpa jastifikasi yang dibenarkan. Namun mengapa kita tidak dengan lantang teriakan “Biadab Saudi” atau “Binasalah rizim Muhammad bin Salman” karena ulahnya membantai saudara-saudara kita di Yaman.

Kesucian Wajah Saudi

Kita anggap Saudi seakan-akan negara yang suci dan haram baginya untuk dikritik. Asumsi semacam ini datang dari asosiasi yang berlebihan bahwa Saudi merupakan representasi dari negara Islam. Mengritik atau menghujat negara ini berarti juga mengeritik Islam.

Di sanalah letak kesalahan berfikirnya. Islam adalah ajaran yang memuat berbagai nilai dan peraturan, sedangkan Arab Saudi adalah negara yang sama sekali bukan perwakilan dari agama Islam, kecuali hanya sebuah negara yang memiliki dua kota suci bagi umat Islam.

Maka seharusnya jika negara ini memang melakukan pembantain terhadap suadara-saudara kita, kita tidak usah ragu untuk berteriak lantang mengeritiknya. Layaknya saat kita mengeritik rezim Assad serta Israel dan Amerika kala melakukan pembantain terhadap sesama suadara kita.

Apa Kita yang Tidak Adil?

Diamnya kita terhadap terbunuhnya puluhan ribu rakyat Yaman yang tidak berdosa karena ulah biadabnya Saudi membuat saya terus bertanya-tanya. Apakah rakyat Yaman sebegitu rendahnya sehingga kita menutup mata, telinga, serta mulut bahkan hati atas tragedi yang menimpa mereka? Ataukah justru kita yang bersikap tidak adil?

Ketidakadilan kita karena kita menganggap bahwa Saudi merupakan sesama saudara kita sehingga meskipun ia berbuat keji terhadap rakyat Yaman yang notabene sesama saudara kita juga, namun justru kita diamkan. Berbeda dengan Myanmar, Israel, dan Amerika yang bukan bagian dari saudara seiman, kita bisa dengan lantang mengutuk mereka.

Sikap seperti ini menunjukan bahwa kita memang tidak adil. Maka tolong bersikap adilah, katanya sesama muslim adalah saudara bukan? Dan sudah sewajarnya sesama saudara haruslah marah tatkala saudara-saudara kita yang tidak bersalah dibunuh, meskipun dibunuhnya oleh sesama saudara kita juga.

Jangan ragu untuk mengeritik Saudi karena dengannya kita tunjukan keberpihakan kita terhadap rakyat Yaman, yang mana sudah saya sebutkan bahwa mereka adalah saudara-saudara seiman kita, dan persaudaraan yang dilandaskan pada iman ikatannya lebih kuat dari tali persaudaraan dengan ikatan darah.

Yopi Makdori