Perang Salib [2]

Posted on

Prof. Leopold Weiss dalam bukunya, al-Islam ‘ala Muftariqun, berkata : “Kebangkitan atau menghidupkan ilmu-ilmu dan sastra-sastra Eropa secara luas dari sumber-sumber Islam, khususnya Arab, dapat mengokohkan sebagian besar hubungan fisik antara Timur dan Barat. Eropa mengambil manfaat lebih banyak daripada yang diambil dunia Islam, akan tetapi Eropa tidak mengetahui keindahan itu. Hal itu bukan karena Eropa mengurangi kebenciannya terhadap Islam, bahkan kebalikannya. Kemurkaan telah tersebar luas seiring dengan kemajuan zaman, kemudian kebencian berubah menjadi kebiasaan. Kebencian ini akhirnya menumbuhkan perasaan kebangsaan setiap kali disebutkan kata Muslim. Kebencian itu juga telah merasuk ke dalam pepatah-pepatah yang berlaku di tengah kehidupan mereka sehingga meresaop kedalam hati setiap orang Eropa, baik laki-laki maupun wanita. Lebih jauh lagi, kebencian menjadi kehidupan, setelah terjadi semua putaran pengganti tsaqafah. Kemudian datang masa perbaikan hubungan keagamaan ketika Eropa terpecah menjadi kelompok-kelompok dan setiap kelompok yang lain. Akan tetapi, permusuhan terhadap Islam telah merata ke seluruh kelompok. Setelah itu datang masa yang menjadikan perasaan (sentimen) keagamaan mereda, akan tetapi permusuhan terhadap Islam masih terus berlanjut. Di antara bukti nyata dari tesis ini adalah pikiran yang dilontarkan oleh seorang filsof sekaligus penyair Prancis abad ke-18, Voltaire. Dia adalah orang kristen yang paling sengit memusuhi ajaran kristiani dan greja. Namun, di waktu yang sama, dia jauh lebih membenci Islam dan Rasul Islam. Setelah beberapa perjanjian, datang zaman yang menjadikan para Ilmuan Barat mempelajari tsaqafah-tsaqafah asing dan menghadapinya dengan penuh simpati. Akan tetapi, dalam segala hal yang berkaitan dengan Islam, maka stereotif dan kebiasaan (taklid) menghina menyusup kedalam problem samar kelompok yang tidak rasional untuk diarahkan pada bahasan-bahasan ilmiah mereka. Jurang yang digali oleh sejarah antara Eropa dan dunia Islam, di atasnya dibiarkan tanpa dipautkan dengan jembatan, kemudian penhinaan terhadap Islam telah menjadi bagian yang mendasar dalam pemikiran orang-orang Eropa.

Berdasarkan hal ini, organisasi-oraganisasi misionaris, sebagaimana yang telah kami sebutkan, didirikan. Organisasi-organisasi ini diarahkan pada proyek-proyek kristenisasi, untuk menciptakaan keraguan kaum Muslim dalam beragama, meredahkan Islam dalam jiwa mereka, dan memukul aspek-aspek politik Islam. Karena itu, akibat-akibat yang dihasilkannya sangat keji, baik di sektor politik ataupun kemudian keraguan juga diciptakannya dalam aspek lain. Sehingga mengantarkan akibat yang parah pada Muslim. Gerakan misionaris ini didirikan dalam maksud untuk dapat menghancurkan dan menikam Islam dari dalam tubuhnya, dan dan mengobarkan keraguan-keraguan di tengah-tengah Islam dan pada hukum-hukumnya, dengan tujuan agar dapat memalingkan manusia dari ajalan Allah dan menjauhkan Muslim dari agama mereka. Di belakang gerakan-gerakan misionaris terdapat gerakan-gerakan  orientalis. Kaum orientalislah yang kemudian melemparkan nilai filisofis tujuan mereka dan menjadikan bengkok.

Seluruh eropa disatukan dalam gaung Perang Salib. Pertama-tama yang diuntungkan melalui jalur pemikiran , dengan cara meracuni akal dengan sesuatu yang melecehkan hukum-hukum Islam yang agung, juga dengan memasukan racun-racun keterasingan yang merasuki akal putra-putri kaum Muslim dengan pernyataan-pernyataan barat tentang Islam dan sejarah kaum Muslim mengatasnamakan kajian-kajian ilmiah dan kesucian ilmu. Ini adalah racun tsaqafah yang menjadi senjata Perang Salib yang paling berbahaya. Seperti halnya para misionaris yang bekerja mengatasnamakan ilmu dan kemanusiaan, maka para orientalis  juga bekerja dengan mengatasnamakan kajian ketimuran dan ilmu. Inilah cara yang digunakan oleh para misiopnaris dan orientalis dalam penghancuran Islam sejak awal perang salib. (bersambung)