Missionaries Attack effect II

Posted on

Sebuah keberhasilan bagi barat menanamkan para intelektual muslim yang memiliki cara berfikir mereka. Saat ini para intelektual  di Eropa dan sekolah-sekolah asing telah melangkah jauh , hingga berhasil menembus barisan para pengemban tsaqafah Islam. penjajah barat yang menyerang mereka dengan menikam Islam, telah mengantarkan merek. Mereka mencoba menangkis tikaman ini, dengan membela diri. Tanpa memperhatikan lagi apakah pembelaannya benar atau salah, baik yang ditikam oleh pihak asing itu adalah Islam – yang dibanggakan- atau yang didustakan. Mereka turut andil menafsirkan Islam dalam keadaan yang membingungkan, atau menakwilkan nash-nashnya sesuai dengan pemahaman-pemahaman barat.

Demikianlah penolakan intelektual Muslim. Mereka menolak serangan-serangan barat, yang justru lebih banyak membantu serangan misionaris daripada menolaknya. Lebih tragisnya lagi adalah dapat menambah kehancuran Islam, dengan mengadopsi peradaban barat yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam, dan dijadikan bagian dari pemahaman-pemahaman mereka. Kebanyakan mereka mengatakan bahwa barat mengambil dari peradaban Islam dan kaum Muslim. Karena itu, mereka menakwilkan hukum-hukum Islam sesuai dengan peradaban ini. Dengan demikian, mereka menerima peradaban Barat sesuai dan secara sempurna dan penuh kerelaan, seraya memperlihatkan  bahwa akidah dan peradaban mereka sesuai dengan peradaban barat. Dalam waktu yang bersamaan, mereka membebaskan dirinya dari peradaban yang Islami. Inilah yang menjadi sasaran penjajah barat. Mereka berhasil memusatkannya menjadi satu, antara serangan misionaris dan penjajah.

Adanya para intelektual yang bertsaqafah asing dan buruknya pemahaman mereka terhadap tsaqafah Islam, menyebabkan munculnya pemahaman-pemahaman barat tentang kehidupan dalam diri kaum muslim. Hal ini tampak dalam kehidupan mereka berupa praktek-praktek peradaban barat yang materialistik. Akibatnya, kehidupan masyarakat tunduk pada peradaban dan pemahaman barat. Kaum muslim pada umumnya tidak mengetahui bahwa sistem pemerintahan demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme liberal, keduanya berasal dari sistem kufur. Mereka tidak dapat bereaksi apa-apa atas apa yang terjadi yaitu dengan sistem ini, mereka menganggap bahwa sistem demokrasi adalah sama seperti musyawarah, sehingga mereka tetap membiarkan begitu saja, karena ketidaktahuan ummat Islam secara umum. Dan disini pun para intelektual Muslim ikut memberikan pemahaman tersebut kepada ummat, sehingga orang awam pasti akan tunduk begitu saja, karena mereka tidak memiliki ilmu yang memadai. Disinilah peran para pengemban dakwah, intelektual muslim, memahamkan fakta sebenarnya dari demokrasi yang dibawa oleh barat untuk meracuni ummat Islam, dengan pemahaman yang menyesatkan menanggalkan hukum Allah Swt, dan mengikuti peradaban barat yang liberal.

Demokrasi dibangun atas asas pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Peradaban ini telah menguasai masyarakat. Pemahaman-pemahaman barat yang materialistis juga menguasai atmosfer mereka. Mereka merasa sudah melaksanakan kewajiban – kewajiban agama dengan meyakini Allah dan menjaga shalat semata-mata. Sementara pengaturan urusan dunia, disesuaikan dengan pandangan dan keinginan barat. Mereka telah terpengaruh dengan pemahaman barat yang mengatakan “berikan kepada kaisar hak kaisar dan berikanlah kepada Tuhan hak Tuahan”. Berarti bahwa peradaban barat memiliki pandangan pemisahan agama dari kehidupan, hal ini dapat terjadi di barat, karena dalam aturan agama mereka tidak memiliki aturan hidup komperhensif (menyeluruh), sehingga wajar jika peradaban mereka tidak dibangun atas dasar agama. Berbeda dengan Islam yang memiliki aturan komperhensif mengenai kehidupan, dan Islam pun sesui dengan fitrah manusia dan memberikan aturan yang jelas untuk manusia, sehingga tak mungkin dipisahkan dari kehidupan.

 

Referensi : An-Nabhani, Taqiyuddin, Daulah Islam