demokrasi bikin sakit hati

Ah, Demokrasi Memang Makan Hati

Posted on

Tahun politik. Begitu kata banyak orang menyambut kedatangan tahun 2019 ini. Ya, benar, karena di tahun 2019 ini akan dilangsungkan pesta demokrasi memilih capres, cawapres, caleg, dan jajaran pejabat lainnya. Mayoritas rakyat Indonesia sedang membicarakan tentang politik. Semua rakyat Indonesia diharapkan ikut berpartisipasi dalam pemilihan ini.

Para calon mulai menampilkan kampanye mereka. Tak lupa acara debat antara paslon disiarkan di televisi. Masing-masing menyampaikan argumennya menjawab setiap pertanyaan yang diajukan moderator. Ada yang pakai teks dan ada yang tanpa teks. Ada yang diam saja tidak ingin berdebat dan ada yang tetap menjawab perdebatan yang diselenggarakan. Namanya saja acara debat, sudah sewajarnya ada perdebatan di dalamnya untuk mengetahui ketangkasan setiap calon. Ya, meski terkadang argument yang terlontar belum tentu akan direalisasikan ketika sudah jadi nanti.

Di musim kampanye seperti ini, selain ada acara debat biasanya akan ditampilkan para calon menyambangi rakyat yang ada di pasar-pasar, di pesantren-pesantren, di kerumunan massa yang merupakan kantong-kantong suara agar memilih calon pemimpin tersebut. Itu yang tampak kamera. Bahkan tampak pula yang biasanya tidak menjadi imam sholat mendadak menjadi imam dan disana ada kamera yang sedang merekam adegan sholat itu sehingga sebagian masyarakat menilai seolah ada pencitraan disana. Tampak pula calon yang tidak ingin menjadi imam sholat karena merasa tidak bisa menjadi imam. Di sisi lain agenda kampanye yang tak tampak kamera akan tetapi sudah menjadi rahasia umum adalah money politik (politik uang). Biasanya nih, di sejumlah daerah di supply sejumlah uang untuk membeli suara rakyat agar memilih mereka para calon penguasa. Semoga saja hal ini tidak ada lagi ya. Masa supaya rakyat berpartisipasi harus pakai suap dulu.

Baca Juga : Meminjam Kacamata ‘Cebong’: Melihat Dunia Menurut Pandangan Cebong II

Di era digital seperti saat ini, tidak heran kalau kampanye juga dilakukan via medsos. Pendukung masing-masing kubu membuat konten berisi tentang calon yang didukungnya. Banyak meme yang beredar saling mendukung yang dicalonkan dan menyindir calon yang lain. Sebagai masyarakat yang bijak tentu kita harus mengetahui bagaimana menyikapi dan menilai tentang hal ini.

Demokrasi itu…

Demokrasi, sistem pemerintahan dengan slogannya yang terkenal “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Di tahun 2019 ini pesta demokrasi itu akan datang kembali “memeriahkan” pemilu presiden dan jajarannya untuk periode selanjutnya hingga 5 tahun ke depan. Nasib rakyat Indonesia ditentukan dalam perhelatan akbar yang mereka sebut dengan pesta demokrasi.

Demokrasi, jabatan menjadi incaran dan rebutan. Demi fasilitas mewah dan lahan basah. Tak peduli bagiamanpun caranya, atas nama kebebasan berpendapat, bertingkahlaku, berkepemilikan mengharuskannya berhasil mendapatkan jabatan yang diinginkan. Sikut kanan sikut kiri, jegal sana jegal sini, fitnah ini fitnah itu tak peduli yang penting jalan mulus jadi pemimpin negeri. Bahkan sampai harus manipulasi pun mereka tempuh cara curang ini. Atas nama demokrasi manipulasi bisa terjadi.

Demokrasi, suara rakyat hanya diperlukan saat pesta demokrasi. Usai terpilih seolah tak diperlukan lagi. “Jangan naikkan tarif dasar listrik”; “Jangan naikkan BBM”; “Jangan impor beras”; “Jangan impor garam”, dan “jangan” “jangan” yang lain yang diteriakkan oleh suara rakyat seperti ditelan bumi. Tak didengar. Tak digubris. Penguasa tetap menaikkan tarif dasar listrik dan BBM, tetap pula mengimpor beras dan garam. Rakyat tetap kewalahan penuhi kebutuhan, hingga terlontar ungkapan “siapapun yang menjabat duduk di pemerintahan, bakul sayur tetap jadi bakul sayur, hidup juga tetap susah.”

demokrasi - jokowi impor lagi

Demokrasi, pendapatan negara terbesar untuk menyusun APBN berasal dari pajak. Pajak yang diambil dari rakyat yang hampir sekarat. Apa saja dipajaki. Tanah, rumah, makanan, minuman, kendaraan, dll. Kaya atau miskin semua kena pajak. Hidup di negeri yang kaya tapi rakyat harus bayar mahal. Lantas, kemana kekayaan sumber daya alam negeri ini yang seharusnya bisa dinikmati oleh rakyat? Pergi kemana mereka? Ah, tentu saja pergi ke kantong orang-orang yang telah membiayai modal pemilu penguasa. Tak ada makan siang gratis. Setelah jadi penguasa negeri mereka harus mengembalikan modal para pengusaha yang mendukung mereka dalam ajang pesta demokrasi. Pengembalian berupa ikut campur dalam pembuatan undang-undang dan pengaturan negeri ini. Karenanya penguasa tak punya waktu untuk mengurusi rakyat yang tak punya rumah, tak bisa makan, tak punya pekerjaan. Mereka harus berjuang sendiri demi bertahan hidup.

Demokrasi, meski telah menjadi penguasa negeri tampaknya gaji 5 tahun belum cukup menutupi pengeluaran ketika pesta demokrasi. Lahan basah untuk tambahan pendapatan pun dicari. Tak ada jalan lain selain korupsi. Begitulah jalan hidup demokrasi. Dari masa presiden pertama hingga saat ini. Hutang luar negeri pun tetap dilakoni untuk membiayai kebutuhan dalam negeri. Karena hutang luar negeri pakai sistem ribawi, tiap tahun hutang semakin menjadi-jadi dengan suku bunga yang tinggi. Kalau sudah begini habis sudah aset milik negara. Dijual semua kepada mereka. Ujung-ujungnya rakyat juga yang susah. Apa-apa harus bayar. Tak adakah kebutuhan hidup yang bisa dinikmati dengan gratis di sistem demokrasi? Belajar dari jalan hidup demokrasi, yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Siapa pun pemimpinnya jika tetap memakai sistem demokrasi akankah ada perubahan yang berarti? Ah, demokrasi memang makan hati.

#2019gantisemua

Wahai saudaraku, harus menunggu berapa kalikah untuk ganti pemimpin tapi sistem tetap pakai demokrasi? Selama ini telah terbukti sistem ini menghasilkan output yang merugikan rakyat. Masihkah kita percaya dengan demokrasi? Kapankah ingin beralih ke sistem yang lebih baik? Sistem yang berasal dari Pencipta manusia, Allah SWT. Sistem Islam. Masih takutkah dengan sistem Islam yang telah terbukti 13 abad (1300 tahun) lamanya mengatur kehidupan ini? Sistem yang memanusiakan manusia. Sistem yang menghargai arti sebuah nyawa. Sistem yang menjaga persatuan umat. Sistem yang berpihak pada rakyat. Sistem yang mengajak kepada Ilahi Robbi. Masihkah enggan?

Di sisi lain kita punya kewajiban untuk menerapkan sistem Islam yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah ini. Allah SWT berfirman:

“Hendaklah kamu (Muhammad) memutuskan perkara di antara mereka menurut wahyu yang telah Allah turunkan. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu.” (TQS Al Maidah:49)

Selain itu, Allah SWT juga sudah ingatkan kita supaya tidak menjadi kelompok manusia yang fasik, zalim, bahkan kufur karena ga pakai aturan Allah SWT.

“Siapa saja yang tidak berhukum dengan wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah orang-orang kafir.(TQS Al Maidah:44).

“Siapa saja yang tidak berhukum dengan wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah orang-orang zalim.”(TQS Al Maidah:45).

“Siapa saja yang tidak berhukum dengan wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah orang-orang fasik.”(TQS Al Maidah:47).

Tuh kan… itu masih beberapa ayat saja lho. Masih ada dalil-dalil lainnya yang berkaitan dengan harus berhukum pada hukum Allah. Jadi, ga cuma sholat, puasa, zakat, dan haji saja ya saudaraku. Ada banyak aturan Allah yang wajib kita terapkan dalam kehidupan kita. Sekarang sudah yakin mau pakai sistem Islam? [Penulis: Iliyyun Novifana,S.Si]