Virus Liberalisme dikalangan Intelektual II

Posted on

Jaringan Islam Liberal (JIL) sebuah organisasi keislaman atau kelompok Islam yang kemudian memandang bahwa dalam menafsirkan Islam harus pluralis, dan kemudian tafsir dalam Islam tidak boleh di monopoli, harus sesuai demokrasi. Dengan hal ini beberapa tokoh liberal dari kalangan intelektual dan cendikiawan menyuarakan adanya pluralisme agama dengan menyatakan: toleransi dalam beragama hanya akan tumbuh di atas dasar paham relativisme ataupun kenisbian (relatif) bentuk-bentuk formal dalam agama ini dan kemudian pengakuan  secara bersama akan kemutlakan tentang suatu nilai yang universal, yang kemudian mengarah pada setiap manusia, kemudian kiranya merupakan sebuah inti dari setiap agama. Sehingga relatifitas dalam beragama menjadi pandangan mereka dalam beragama, yang mungkin dapat dikatakan bahwa mereka menganggap tak ada agama yang paling benar di dunia. Semua tergantung dalam penafsiran manusia masing-masing hingga kemudian mereka beribadah tujuannya sama, namun caranya berbeda. Dalam dunia pemikiran Islam Liberal ini dianggap sebagai pemikiran pembaharuan dalam beragama, memang kebanyakan dari tokoh penggagas kalangan ini berasal dari intelektual yang memang telah terbaratkan dan memang mereka belajar Islam dari barat.

Golongan Islam Liberal ini hanya kita temui di Indonesia, walaupun mungkin banyak diluar Indonesia pula. Namun Islam Liberal sangat masif di infiltrasi di Indonesia selain tokoh-tokoh nya yang banyak, begitupun mereka telah mendapatkan sokongan dana yang cukup besar dari organisasi The Asia Foundation dari tahun 2001 sampai 2005 sebesar Rp. 1.4 Miliar. The Asia Foundation merupakan sebuah organisasi nirlaba non-pemerintahan yang telah berkomitmen untuk kemudian mengembangkan wilayah khususnya Asia-Pasifik menjadi  wilayah yang damai, adil, dan makmur. The Asia Foundation juga telah mendukung inisiatif Asia dalam meningkatkan tata kelola pemerintahan, hukum, sipil, , reformasi ekonomi dan pembangunan,  pembangunan berkelanjutan dan lingkungan hidup, hubungan internasional, dan pemberdayaan perempuan. [1]

Hampir selama 60 tahun telah ber- pengalaman di Asia, The Asia Foundation juga bekerja sama bersama mitra swasta dan masyarakat untuk mendukung kepemimpinan dan sebuah pengembangan institusi, penelitian, pertukaran dan kebijakan. menurut Novrianti, pergerakan JIL ini dan Ulil mendapatkan sokongan dana ini. Dan kemudian Ulil Abshar mengkritik  bahwa MUI telah melakukan memonopoli penafsiran pada Islam di Indonesia, yang utama karena kemudian fatwa yang menyatakan jika Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme adalah ideologi yang sesat. Jika memang secara pandangan masyarakat umum maka akan kita temukan kejanggalan dalam pemikiran Islam liberal ini. Namun mereka lebih akan masuk pada kalanga masyarakat yang intelektual karena dianggap kritis dan kalangan masyarakat budaya karena mereka akan lebih diterima, karena dianggap kalangan budaya bahwa Islam, banyak seolah mengekang budaya, dan kalangan ini ingin masuk kedalamnya bahwa Islam dapat disesuaikan dengan budaya, dan adat istiadat terlepas dari bertentangan atau tidak dengan akidah Islam maupun syariat.

Walaupun kebanyakan dari para tokoh, intelektual dan Cendikiawan yang masuk dalam kalangan Islam Liberal ini mereka adalah para alumnus pondok pesantren dan memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni, namun kemudian memang terkadanag mereka sering menimbulkan kontroversi dikalangan masyarakat. Jaringan Islam Liberal ini memang ingin menampung semua pemikiran dalam kalangan mereka, mereka tidak membedakan baik sunni, syiah, ahmadiyah, dll. Dan hal ini yang mereka anggap sebagai menerima perbedaan.

Didalam artikel “Virus Liberalisme dikalangan Intelektual Muslim” lalu kami sudah banyak menjelaskan mengenai kelompok-kelompok, kalangan intelektual yang menginginkan bahwa seharusnya Islam adalah berpandangan sesuai barat dalam memandang Islam, ataupun Islam harus sesuai dengan barat. Sehingga disini tak ada yang namanya kalangan ‘radikal’ yang menurut terminologi barat bahwa istilah ini adalah digunkan untuk men- justifikasi kalangan ummat Islam yang berpegang teguh pada syariat, sangat wara’, berhati-hati dalam berpendapat dan berfatwa. Sehingga tugas mereka adalah ingin merubah itu semua, yang mereka inginkan adalah Islam tidak usah ekstrim dan radikal, mereka menjadikan tafsir al-Qur’an menjadi relatif karena mereka menafsirkannya dengan penafsiran yang digunakan untuk menafsirkan injil, yaitu yang telah kita sebut sebagai penafsiran dengan metode hermeneutika. Sehingga hermeneutika itu kini telah diajarkan dibeberapa universitas Islam di Indonesia. Sehingga hal ini membuat kalangan intelektual Muslim akan semkin dijauhkan dengan Islam.

Hingga akhirnya gerakan kelompok ini ditentang oleh banyak kalangan dari ummat Islam yang menentang ajaran yang dibawa oleh mereka kalangan Islam liberal yang memiliki pemikiran liberalisme dan sekularisme. Akhirnya banyak perlawanan yang dilakukan oleh kalangan ummat Islam yang kontra terhadap pemikiran kalangan JIL ini. Dengan mendirikan sebuah kelompok bersama melawan pemikiran Islam liberal.

Indonesia Tanpa Jil atau disingkat ITJ sebagai bentuk perlawanan yang menyuarakan tentang perlawanan atas pemikiran Jaringan Islam Liberal. [2]Misi dari komunitas ini adalah melawan liberalisme dan sekularisme dalam Islam yang dibawa oleh tokoh-tokoh liberal tadi. Hingga akhirnya komunitas Indonesia Tanpa Jil ini meluas hingga keberbagai daerah. Dan kemudian banyak lagi counter yang dilakukan oleh ummat Islam dalam melawan Islam liberal ini, karena kemudian pandangan-pandangan dari tokoh-tokoh nya memang kebanyakan menyimpang sehingga sering dipertentangkan. Kemudian keanehan dari kelompok ini adalah mereka erat dengan kelompok syiah, ahmadiyah yang jelas dari akidah mereka sudah menyimpang, mereka dapat seolah mengakomodir pemikiran kalangan tadi. Namun kemudian mereka justru terkadang tidak terbuka dengan kalangan yang menyuarakan syariah dan kembali pada aturan Islam, malah mereka menuduh kalangan ini sebagai ekstrim dsb.

Politik Belah Bambu

Devide et impera atau politik pecah belah, adu domba adalah politik yang kemudian dilakukan oleh barat untuk memecah belah ummat Islam dari kalangan intelektual pun sama. Mereka menggunakan tiga pemisah, ataupun pembeda atas ummat Islam. Yaitu  1) kalangan Tradisionalis 2) kalangan Moderat 3) kalangan Fundamentalis, ketiga golongan inilah yang kemudian digunakan barat untuk memecah kekuatan ummat Islam, membagi dan mengadu domba diantara kelompok tadi.

  • Kalangan Tradisionalis

Kalangan Islam ini dianggap barat sebagai orang-orang yang tidak faham kemajuan dan kontemporer mereka dianggap masyarakat desa yang masih memegang tradisi-tradisi dan Islam kalangan ini mereka anggap sebagai kalangan yang akan dipertahankan dengan tradisi-tradisi yang kemudian diakulturasikan dengan Islam dan kalangan ini tidak mengancam eksistensi barat.

  • Kalangan Moderat

Kalangan ini sangat disenangi barat karena kalangan ini dianggap sangat sesuai dengan apa yang barat cita-cita kan. Mereka ingin ummat Islam yang tidak keras dan ekstrim, tetapi ingin agar ummat Islam dapat bersatu dengan barat dalam menyebarkan pluralisme, liberalisme, dan sekularisme. Termasuk didalamnya JIL, yang dianggap sebagai agen mereka dalam menangani ummat Islam.

  • Kalangan Fundamentalis

Kalangan ini adalah kalangan ummat Islam yang tidak sepakat dengan barat dan pemikiran liberal ala barat, dan kalangan ini dianggap mengancam barat sehingga harus dilemahkan, cara melemahkannya adalah dengan dibenturkan dengan kalangan tradisionalis dan kalangan moderat. Sehingga kalangan ini sebagai sasaran utama dari barat. Karena kalangan ini inginkan ummat Islam bangkit menang dan barat tidak suka itu mereka merasa terancam dan kalangan ini harus dilemahkan.

Sebagian ummat Islam belum banyak yang menyadari akan bahayanya negeri ini andaikan dipimpin oleh orang kafir dan kemudian ummat Islam masih belum menyadari bahwa mereka sedang diserang oleh musuh-musuh Islam. Oleh karena itu upaya pembangkitan untuk ummat Islam ke arah penerapan Islam adalah cara untuk menghadapi hegemoni barat. Karena sebenarnya barat takut dengan kebangkitan Islam. Upaya fitnah terhadap Islam terus digulirkan. Yang mereka iginkan hanya kemudian Islam tidak bangkit dan berkuasa. Namun janji Allah akan tegaknya Islam dengan Syariah dan Khilafah adalah sebuah kebenaran yang pasti terjadi. Dan tidak ada satupun yang dapat menghalangi kemenangan Allah swt. Wallahu’alam bis shawab.

[Mulki Hakim]

[1] http://keuanganlsm.com/the-asia-foundation/

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia_Tanpa_JIL