The Philosophical Foundation of “Urus Saja Urusanmu!”

Posted on

Kita mungkin sering mendengar kalimat–baik di media sosial maupun di dunia nyata–“Urus saja urusan kalian sendiri jangan menasehati aku”. Kita mungkin menafsirkan kalimat tersebut sebagai bentuk penolakan seseorang akan “intervensi–termasuk nasihat” kehidupannya dari pihak di luar dirinya. Hal itu merupakan cabang dari bentuk ajaran liberalisme yang di era ini sedang menemui titik klimaksnya.

Liberalisme sendiri merupakan salah satu aliran politik yang lahir dari rahim peradaban Barat. Liberalisme ditopang oleh sebuah asumsi yang menganggap bahwa manusia bebas untuk berkehandak sesuai dengan kemauannya. Jika digambarkan secara panjang-lebar tentang liberalisme, saya percaya pasti akan memakan ratusan ribu halaman. Namun begitu, dalam konteks tulisan ini penjelasan tentang liberalisme hanya diambil sebagian yang sesuai dengan ide utama tulisan.

Salah satu cabang dari sekian banyak cabang doktrin liberalisme adalah kebebasan individu (free individual choice). John Charvet dan Elisa Kaczynska Nay dalam The Liberal Project and Human Rights (2008), menyatakan bahwa baik praktek maupun teori, liberalisme fokus untuk mempromosikan nilai-nilai sosial yang mangedepankan kebebasan individu untuk memilih.Dari sini, nantinya muncul ide tentang kebebasan beragama, mengekspresikan diri, pandangan politik, seksual, dan kebebasan jalan hidup (way of life). Charvet dan Nay juga menekankan bahwa doktrin liberalisme tentang kebebasan individu secara politik menghasilkan kebebasan setiap individu untuk memilih pemimpin sesuai dengan yang mereka kehendaki.

Doktrin “Urus Saja Urusanmu!

Liberalisme merupakan sebuah ideologi, ideologi secara dangkal dipahami sebagai sebuah doktrin (tata nilai dan kepercayaan) yang menjadi sumber manusia untuk memandang dan menjalankan kehidupannya. Seperti yang telah disebutkan di dalam beberapa paragraf sebelumnya bahwa kalimat “Urus Saja Urusanmu!” bukan hanya sekedar kalimat. Jauh dari pada itu, kalimat tersebut mengandung doktrin ajaran liberalisme terkait kebebasan individu.

Dalam liberalisme setiap manusia lahir dengan membawa hak-hak yang ia miliki. Salah satu hak yang ia miliki ialah “kebebasan”. Manusia bebas berbuat sesuai dengan kehendak dirinya. Dan dari sini munculah apa yang dikenal dengan individulisme. Kalimat “Urus Saja Urusanmu!” ialah salah satu bentuk pengejawantaan konsep individulisme tersebut.

Jika ditinjau dari sudut pandang oposisi biner benar-salah, maka jika yang digunakan ialah kacamata “liberal” hal itu jelas dibenarkan. Namun jika doktrin lain, seperti Islam sebagaimana agama yang kita peluk. Maka hal tersebut jelas salah.

Selain merupakan agama, Islam juga merupakan sekumpulan nilai dan ajaran (doktrin) dalam menjalankan kehidupan seorang individu. Dalam Islam jelas menolak konsep individulisme yang hanya mementingkan pribadinya. Islam memang menghargai kebebasan individu dalam menjalankan hidupnya asalkan masih dalam track ajaran Islam.

Dengan kata lain, doktrin dalam Islam jelas menentang spirit dari kalimat “Urus Saja Urusanmu!”. Hal ini patut dipahami bahwa dalam ajaran Islam sesama Muslim harus saling mengingatkan, apalagi mengingatkan dalam hal kebaikan. Islam tentu tidak mengenal individualisme karena Islam agama yang mengedepankan kolektivitas dalam kebaikan.

Namun perlu diperhatikan bahwa dalam Islam kita tidak diperkenankan untuk mengorek-orek rahasia dalam kehidupan orang lain. Maka kalimat “Urus Saja Urusanmu!” dalam konteks ini wajar jika diucapkan, karena Islam begitu menghargai “privasi”. Begitulah singkatnya akar ajaran dari kalimat “Urus Saja Urusanmu!”, dan semoga dengan bertambahnya pemahaman tentang kalimat tersebut, kedepannya kita akan lebih bijak dalam menggunakan kalimat itu.

 

[Yopi Makdori]