Merintangi Tegaknya Kejayaan Islam I

Posted on

Perang Dunia I berakhir, dimana pasukan sekutu berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Daulah Islam. Cita-cita mereka mengikis habis tanpa menyisakan sedikitpun wilayah kekuasaan Daulah Islam dengan tuntas,  berusaha menghilangkan kejayaannya dan menghalangi tegaknya kembali untuk kedua kalinya. Untuk mengikis hingga habis, sekutu berusaha memecah belah lebih dulu. Politik belah bambu telah diterapkan oleh pasukan sekutu untuk memecah belah kekuatan umat Islam. Jika umat sudah terpecah kekuatannya maka akan dengan mudah untuk dihancurkan dan dikikis satu per satu. Ketika sudah hancur maka akan sulit untuk mengembalikan kejayaannya kembali mereka akan menutup celah-celah untuk Islam dapat tegak kembali.

Setalah berhasil memecah belah dan meruntuhkan mereka tidak memberi kesempatan untuk mendirikan Daulah Islam di belahan bumi Islam manapun. Mereka telah meletakkan strategi globa dengan menggunakan berbagai metode yang menjamin Daulah Islam tidak hidup kembali. Secara terus menerus mereka melakukan upaya itu demi tujuan tersebut.

Semenjak penjajah menduduki negeri-negeri kaum Muslim, mereka memantapkan kekuasaannya dengan mengokohkan sistem hukum berdasarkan rumusan mereka. Pada tahun 1918 M, mereka berhasil menduduki negeri-negeri yang selama ini bernaung di bawah pemerintahan Daulah Utsmaniyah. Kemudian negeri-negeri tersebut ditegakan sistem hukum militer hingga tahun 1922 M. Lalu mereka mengokohkan pemerintahannya dengan nama pemerintah kolonial disebagian negeri dan menggunakan nama kemerdekaan penuh di negeri lainnya hingga tahun 1924 M. Pada tahun itu, pihak musuh terutama Inggris telah melakukan berbagai persiapan untuk berbagai sarana perlawanan terhadap semua unsur diduga akan menjadi kekuatan untuk megembalikan Daulah Islam.

Saat itu, Mustafa Kamal telah menghapus sistem khilafah Daulah Utsmaniyah, menjadi Republik Demokrasi Turki. Mustafa Kamal menggusur khilafah hingga menumpas habis angan-angan terakhir yang menghendaki kembalinya Daulah Islam. Pada pertengahan tahun itu pula, melalui kaki tangannya, Inggris menyusup ke dalam pertemuan muktamar khilafah yang diadakan di Kairo. Mereka berusaha memecahbelah dan menghancurkannya. Pada tahun yang sama, Inggris berusaha menghapuskan Jam’iyyah Khilafah (Komite untuk memperjuangkan Khilafah) di India, membatalkan usaha-usahanya, dan mengubah serta mengalihkan arah perjuangannya ke paham nasionalisme dan kebangsaan. Di Mesir, tahun yang sama diterbitkan sejumlah karangan dari sejumlah ulama Al-Azhar yang dipengaruhi kafir penjajah. Isinya mengajak umat untuk memisahkan agama dengan negara, dan menyerukan bahwa dalam Islam tidak ada dasar-dasar pemerintahan, serta menggambarkan Islam sebagai agama kependetaan. Dikatakan pula bahwa Islam, tidak sedikitpun ditemukan konsep tentang pemerintahan dan negara.

Tahun itu dan tahun-tahun berikutnya, di negeri-negeri Arab terjadi perdebatan-perdebatan seputar dua tema, yaitu apakah gerakan Pan Arabisme lebih patut dan lebih banyak memberikan kemungkinan atau Pan Islamisme. Berbagai surat kabar dan majalah sibuk memperbincangkan tema-tema itu, padahal keduanya, apakah Pan Arabisme atau  Pan Islamisme, sama-sama tidak sesuai dengan Islam. Esensi gerakannya hanya berusaha mengadakan perubahan tanpa mendirikan Daulah Islam. Akan tetapi, bagi kafir penjajah, perdebatan ini mengandung kepentingan lain, yaitu untuk mengalihkan opini umat dari Daulah Islam. Dengan diskusi-diskusi ini, mereka mampu menjauhkan umat dari opini tentang khilafah dan Daulah Islam.

Sebelum melakukan penjajahan, kaum imperialis telah mempropagandakan idiom-idiom nasionalis Turki ke tengah-tengah generasi muda Turki. Secara agitatif dipropagandakan bahwa Turki memikul beban berat bangsa-bangsa yang bukan bangsa Turki. Turki harus membebaskan diri dari bangsa-bangsa selain Turki. Turki harus menyusun partai-partai politik yang bekerja untuk mewujudkan nasionalisme Turki dan membebaskan Turki dari negara-negara selain Turki. Begitu juga dikalangan para pemuda Arab. Slogan-slogan nasionalisme Arab juga disebarluaskan oleh kafir penjajah, seperti, Turki adalah negara penjajah! Sekaranglah saatnya bagi bangsa Arab untuk membebaskan diri dari penjajahan Turki! Kemudian dengan slogan-slogan itu mereka membentuk partai-partai politik yang bekerja untuk mewujudkan persatuan Arab dan membebaskan Arab. Penjajahan belum dilaksanakan, sampai kafir penjajah berhasil menyebarkan slogan-slogan nasionalisem dan menjadikannya semangat perjuangan menempati posisi yang sebelumnya ditempati Islam. Turki diberikan kemerdekaan atas dasar kebangsaan dan nasionalisme. Bangsa Arab juga bekerja untuk pemerintahan yang berdasarkan kebangsaan dan nasionalisme. Kata-kata nasionalisme dan kebangsaan menyebar dan memenuhi atmosfer dunia Islam. Kata-kata itu akhirnya menjadi tumpuan kebanggaan dan label kemuliaan. Upaya penjajah tidak cukup dengan itu saja. Mereka juga menyebarkan pemahaman-pemahaman yang menyesatkan tentang pemerintahan dalam Islam, tentang Islam sendiri, dan gambaran khilafah, yang dinyatakan sebagai jabatan kepausan dan bentuk pengejawantahan dari pemerintahan agama yang bersifat kependetaan (teokrasi). Sehingga, kaum Muslim sendiri akhirnya malu menyebut kata khilafah, juga orang yang menuntut kekhilafahan. Di tengah-tengah kaum Muslim juga sering dijumpai pemahaman umum, yang menyatakan bahwa persoalan khilafah merupakan perkara yang kuno, terbelakang, jumud, hanya euforia kesenangan, tidak ada dasar dsb. Intinya tidak mungkin keluar dari orang yang berbudaya dan tidak mungkin keluar dari para pemikir.

Di tengah –tengah iklim kebangsaan dan nasionalisme ini, daulah Islam dibagi-bagi menjadi beberapa negara, dan penduduk setiap negara berpusat dan berkelompok di negara asal mereka tinggal. Daulah Utsmaniyah dibagi menjadi beberapa negara, diantaranya, Turki, Mesir, Irak, Suriah, Lebanon, Palestina, Kawasan Timur Yordania, Hijaz, Najd, dan Yaman. Para politisi yang menjadi antek-antek penjajah mengadakan berbagai muktamar dan kongres di setiap negara tempat mereka tinggal. Mereka semua menuntut kemerdekaan di masing-masing negeri yang digariskan dalam muktamar, ditetapkan menjadi negara yang berdiri sendiri dan terpisah dari negeri-negeri Islam lainya. Atas dasar ini berdirilah negara-negara seperti negara Turki, Mesir, Irak, Suriah, dsb. Kemudian di Palestina didirikan gerakan kebangsaan Yahudi, yang beberapa waktu kemudian berubah menjadi ‘Gerakan Perjuangan Kemerdekaan’ atas nama negara. Proyek ini diagendakan menjadi ujung tombak kepentingan kafir, dan untuk meletakkan hambatan yang menyibukkan kaum Muslim. Pada akhirnya kaum Muslim lupa terhadap kafir penjajah, yaitu negara-negara barar, seperti Inggris, Amerika, Prancis dan kroni-kroninya. Mereka meletakkan penghalang yang akan memecah belah kaum Muslim dan negeri-negeri kaum Muslim, sehingga kaum Muslim tak mampu mengembalikan tegaknya kembali kejayaan Islam dan Daulah Islam. Dengan demikian, posisi geografis dan opini umum memusat menjadi satu titik perubahan tanpa ada pembebasan kaum Muslim.

Kemudian lahirlah konsep pemerintahan yang berdiri dan tegak atas dasar sistem kapitalis di bidang ekonomi, menerpkan sistem demokrasi dalam sistem pemerintahan, dan menerapkan undang-undang barat dalam bidang administrasi negara dan pengadilan. Pemerintah tersebut juga mengambil peradaban dan pemahaman tentang kehidupan dari Barat. Maka terjadilah pemusatan pandangan hidup Barat, sehingga metoda kehidupannya menjadi pedoman kehidupan kaum Muslim. Kerja kafir penjajah memperoleh keberhasilan besar. Mereka telah berhasil memecah belah keadaan kaum Muslim, dan bukan hanya itu saja namun mereka berhasil membuat negeri-negeri kaum Muslim tunduk atas kepentingan mereka. Mereka menancapkan tombak racunnya di tengah-tengah kehidupan kaum Muslim, sehingga dengan mudahnya mereka mengendalikannya.