kegagalan pendidikan

Kegagalan Pendidikan dalam Sistem Demokrasi

Posted on

Beberapa waktu lalu diberitakan bahwa seorang siswa melakukan pemukulan terhadap guru. Selain itu bukan hanya pemukulan namun juga pengeroyokan guru oleh siswa. Kasus pemukulan baru-baru ini terjadi pada guru honorer Faisal Dg. Paulle (38), yang dilakukan oleh tiga siswa NRA (12), AD (12), MI (12) dan orangtua siswa Muh. Rasul Dg. Sarrang (48) yang dilakukan beberapa hari lalu di Galesong Takalar. Walaupun akhirnya “Kasus ini berakhir damai. Namun , nasib siswa di sekolah akan diselesaikan melalui rapat internal oleh dewan guru dengan orangtua murid. Kasus pemukulan ini terjadi menjadi sebuah hal yang sangat memilukan karena bukannya siswa yang harus hormat terhadap guru namun kini siswa berani memukul guru.

Hal ini terjadi bukan hanya satu kali namun kerap terjadi beberapa kali dan sudah menambah daftar panjang pemukulan terhadap seorang tenaga pendidik atau guru. Pada waktu lalu terjadi pula kasus pemukulan terhadap guru dan penganiayaan murid terhadap guru hingga berujung pada kematian di Sampang, Jawa Timur. Penganiayaan terhadap guru berujung maut yang dilakukan seorang murid SMAN 1 Torjun, HI (17) kepada gurunya, Ahmad Budi Cahyono (26) dan hal ini sungguh begitu tragis. Hal ini terjadi ketika seorang guru mencoba untuk mengingatkan siswanya yang harus mengerjakan sebuah tugas mata pelajaran melukis. Namun siswa tersebut tak menghiraukan perintah sang guru, hingga sang guru mengoleskan cat ke pipi siswa tersebut. Namun siswa tersebut tak terima dengan perlakuan tersebut, hingga akhirnya sang guru dipukul oleh murid tersebut hingga tersungkur dan pukulannya mengenai kepala.

Kemudian sempat ada permintaan maaf setelah kejadian. Namun karena hal tersebut guru tersebut harus dirawat dan akhirnya nyawanya tak tertolong, hingga akhirnya meninggal. Hal ini sungguh sangat memilukan dan tragis. Bagaimana tidak berfikirnya seorang siswa yang melakukan pemukulan terhadap guru yang harusnya dihormati.

Selain itu juga pemukulan terjadi terhadap guru di Kendal, Jawa Tengah, walaupun hal itu menurut pengakuan hanya sebuah guyon atau lelucon. Namun hal tersebut sungguh sangat tidak wajar dan sangat tak beradab sebagai seorang murid.

Bukan hanya guru namun pihak pegawai sekolah pun harus mengalami hal yang sangat menyedihkan.  Dimana Seorang cleaning service di sekolah  SMP Negeri 2 Takalar, Faisal Daeng Pole (38), dikeroyok oleh 5 siswa sekolah menengah pertama (SMP). Bahkan para siswa ini memang sering mengatai para guru dengan sebutan ‘anjing’.

Menurut pengakuan guru “Siswa ini terbilang nakal di sekolah. Kemudian para guru juga mengeluh karena ada yang dikatai anjing sama mereka,” menurut  Kepala Sekolah SMP N Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Sulsel, Hamzah, saat diwawancara di sekolahnya, Senin (11/2/2019).

Para siswa ini adalah siswa kelas satu di sekolahnya. Kemudian  Selama proses belajar mengajar yang dilakukan di sekolah, para guru sering kemudian mengeluhkan soal umpatan-umpatan kasar yang selalu keluar dari para mulut siswa ini.

Kemudian prestasi mereka pun tidak ada di sekolah. Yang mereka tonjolkan hanyalah kenakalan mereka,” menurutnya

Tak hanya kemudian sering mengatai guru, namun para siswa ini pun sering keluar masuk kelas saat proses belajar mengajar  berlangsung. Sehingga Guru pun sering kali menegur kelima pelajar ini namun tak mendapat tanggapan berarti. Sehingga guru akhirnya mungkin mengkhawatirkan kondisi mereka. Hal ini menambah panjang bobroknya sistem pendidikan dalam era demokrasi. Bukannya menghasilkan murid-murid berkualitas namun sebaliknya malah menghasilkan siswa-siswa yang tak beradab.

Pendidikan Masa Khilafah Islamiyah

Pendidikan dalam masa kejayaan Islam telah memberikan banyak kontribusi bagi perkembangan dunia ilmu pengetahuan. Kondisi seperti ini tidak mungkin didukung dengan adanya para guru yang berkualitas dan para murid yang beradab. Karena sudah seperti sebuah rumus bahwa murid yang beradab kepada guru akan menghasilkan pendidikan yang sangat maju dan berkeadaban. Pendidikan berjalan begitu maju dengan banyak menghasilkan orang-orang cerdas dan para penemu peradaban yang mempengaruhi peradaban dunia saat ini.

Majelis-majelis ilmu didatangi para murid untuk belajar berbagai ilmu pengetahuan. Bukan hanya ilmu agama namun berbagai ilmu pengetahuan. Perpustakaan dibuka untuk pembelajaran dengan berbagai koleksi buku terlengkap dan terbesar pada masanya. Selain itu negara bersinergi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Mulai dari gaji guru-guru yang dibayar dengan mahal dan diberikan fasilitas yang mewah untuk keluargannya.

Kemudian pengembangan riset pun didukung oleh negara dengan memberikan berbagai kemudahan dengan membayar setiap yang dapat menghasilkan karya tulis dengan menimbangnya dengan takaran emas. Sehingga semakin berat buku yang menjadi karya tulis yang dihasilkan maka semakin besar pula emas yang akan didapatkan. Sungguh sangat luar biasa perhatian Khalifah kepada para penuntut Ilmu sehingga dengan hal ini kemungkinan murid yang berprestasi akan lebih mudah.

Seorang alim ulama dan imam yang sangat terkenal dengan keilmuannya dan hidup pada masa kekhilafahan. Kini kitabnya menjadi panduan bagi banyak umat Islam didunia. Imam Syafi’i yang menjadi murid bagi para guru-gurunya yang terkenal. Bahkan para gurunya sampai tak mampu lagi mengajarinya hanya karena ia sangat cerdas dan kecerdasannya sudah mengalahkan sang guru. Namun hal tersebut tidak menghalangi beliau untuk menghormati sang guru. Bahkan sampai-sampai ia ingin berguru kepada Imam Malik dan hingga Imam Malik kagum dengan Imam Syafi’i karena ia mampu menghafalkan isi kitab Al-Muwatha. Hingga dimasa muda Imam Syafi’i sudah terkenal dengan gelar keulamaannya yang membuat ia juga dihargai oleh para ulama dan para khalifah. Dimana pada saat itu Imam Syafi’i hidup pada masa Daulah Khilafah Bani Abbasiyah yang terkenal dengan masa keemasan ilmu pengetahuan yang mana pada masa itu sekolah-sekolah didirikan para khalifah dan kemudian sekolah-sekolah tersebut digratiskan untuk semua murid, tanpa memandang status sosial.

Muhammad Al-Fatih sang penakluk Konstantinopel harus dipukul oleh gurunya, karena ia tak bisa diatur namun justru ia semakin patuh karena orang tuanya Sultan Murad II telah memberikan kewenangan kepada gurunya untuk memukul jika tak bisa diatur. Namun dengan dipukulnya sang Al-Fatih justru semakin membuatnya patuh dan menjadi seorang yang tumbuh dengan cerdas, hingga akhirnya ia dapat menaklukkan sebuah imperium besar yang tidak pernah seorangpun dapat menaklukkannya hanya pemimpin terbaik dan pasukan terbaik yang dapat menaklukkan Konstantinopel.

Hal ini dijelaskan disini bahwa pendidikan pada sistem Demokrasi memang tidak dapat memberikan kebaikan, karena jelas bahwa kebebasan dan HAM menjadi hal yang diagungkan, menjadi dalih dalam sistem ini. Kemudian mahalnya biaya pendidikan membuat orang-orang tak merata mendapatkan pendidikan yang layak. Sedangkan dalam sistem Islam para Khalifah memperhatikan penuh pendidikan masyarakatnya dan lingkungan yang baik juga membentuk para siswa yang berkarakter dan beradab. Karena memang Islam sangat mengutamakan adab, sehingga ilmu pun diraih dengan berkah dan menjadikan Daulah Islam pada masanya mengalami kemajuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).

Sumber : dari berbagai  sumber