Telaah Sikap Dasar Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Wacana Oksidentalisme
Orientalisme merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan cara pandang Barat terhadap dunia Timur (Islam). Dalam praktiknya, orientalisme tidak selalu bersifat netral. Banyak penelitian dan karya yang lahir dari perspektif orientalis justru menggunakan kerangka berpikir Barat untuk menafsirkan Timur. Akibatnya, Timur sering digambarkan sebagai “yang lain” (the other), sesuatu yang eksotik, irasional, atau bahkan tertinggal dibandingkan Barat. Cara pandang seperti ini tidak jarang berkaitan erat dengan kepentingan kolonialisme, di mana pengetahuan tentang Timur digunakan untuk mempermudah dominasi politik, ekonomi, dan budaya Barat terhadap masyarakat Timur, termasuk dunia Islam.
Sebagai respon terhadap dominasi wacana orientalisme, muncul gagasan tentang oksidentalisme. Oksidentalisme adalah disiplin ilmu atau pendekatan kajian yang menempatkan dunia Barat sebagai objek penelitian, sementara Timur—termasuk umat Islam—menjadi subjek pengkaji. Dengan kata lain, oksidentalisme merupakan kebalikan dari orientalisme. Jika orientalisme menjadikan Timur sebagai objek yang diteliti oleh Barat, maka oksidentalisme justru menjadikan Barat sebagai objek analisis yang dikaji secara kritis oleh para pemikir dari dunia Timur.
Dalam kerangka orientalisme, sering kali dibangun asumsi bahwa pemikiran yang lahir dari Islam bersifat meragukan, tidak ilmiah, dan layak untuk dikritik secara bebas tanpa memandang kesakralannya. Sebaliknya, oksidentalisme mengajarkan sikap kritis terhadap pemikiran Barat. Dalam perspektif ini, pemikiran yang datang dari Barat tidak boleh diterima secara mentah-mentah. Ia harus ditelaah, dikritisi, dan diuji terlebih dahulu oleh umat Islam. Jika dalam banyak narasi Barat Islam dipandang sebagai lawan ideologis, maka umat Islam pun perlu memandang gagasan Barat secara kritis sebagai ancaman terhadap pemikiran Islam. Dalam konteks ini, benturan peradaban (clash of civilizations) adalah keniscayaan.
Sikap kritis semacam ini dijelaskan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Sur’ah al-Badihah. Beliau menjelaskan bagaimana Barat berupaya melumpuhkan kemampuan berpikir umat Islam, sehingga umat menjadi tidak produktif dan mudah menerima ide-ide asing dengan penuh kekaguman. Untuk menghadapi kondisi tersebut, beliau memberikan prinsip dasar yang sangat tegas:
والجواب على ذلك هو أولا وقبل كل شيء أن نعرف أن الغرب هو عدو، وأن أفكاره، جميع أفكاره، فيها شك
Artinya: “Jawaban atas persoalan ini—pertama dan sebelum segala sesuatu—adalah kita harus menyadari bahwa Barat adalah musuh, dan bahwa seluruh gagasannya mengandung unsur keraguan.”
Beliau menegaskan kembali prinsip ini dengan pernyataan:
فالشك في كل ما أتى من الغرب هو الأصل، وهو الذي يجب أن يوجد، وما لم يحصل الشك في الغرب، وفي كل ما يصدره لنا لا سيما الأفكار ، لا بد أن نظل أسرى لهذا التفكير، ولا بد أن نظل ضحية له، ولفخاخه
Artinya: “Meragukan segala sesuatu yang datang dari Barat adalah prinsip dasar, dan itulah yang seharusnya ada. Selama keraguan terhadap Barat—dan terhadap segala sesuatu yang mereka ekspor kepada kita, terutama pemikiran—belum muncul, kita akan tetap menjadi tawanan cara berpikir itu, dan akan terus menjadi korbannya serta terperangkap dalam jerat-jeratnya.”
Bahkan secara lebih kritis beliau menyatakan:
لذلك فإن الخطوة الأولى التي يجب أن نخطوها هي الشك في الغرب، وفي كل ما يصدّره لنا، حتى لو كان يصدّره لنفسه، لأنه قد يضحي بنفسه في سبيل تضليلنا.
Artinya: “Karena itu, langkah pertama yang harus kita tempuh adalah bersikap ragu terhadap Barat dan terhadap segala sesuatu yang ia ekspor kepada kita, bahkan terhadap apa yang ia ekspor kepada dirinya sendiri; karena bisa jadi ia mengorbankan dirinya demi menyesatkan kita.”
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa sikap skeptis terhadap produk pemikiran Barat merupakan pilar penting dalam menjaga ketajaman intelektual umat Islam. Tanpa sikap kritis tersebut, umat Islam berisiko kehilangan kemandirian berpikir dan akhirnya hanya menjadi konsumen gagasan Barat. Buktinya, banyak alumni pesantren yang silau dengan peradaban Barat dan bergumam “waw” saat pertama menginjakkan kaki di Eropa dalam misi beasiswa pendidikan.
Dalam konteks ini, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dapat dipandang sebagai salah satu tokoh oksidentalis: seorang pemikir yang mampu membedah secara kritis ideologi dan pemikiran Barat, terutama kapitalisme. Melalui karya-karyanya seperti Al-Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam dan Naqd al-Isytirakiyyah al-Marksiyyah, beliau tidak hanya mengkritik sistem ekonomi kapitalisme, tetapi juga menguraikan secara mendalam ideologi sosialisme dan marxisme. Analisis beliau menunjukkan kelemahan mendasar dari kedua sistem tersebut jika ditinjau dari perspektif Islam.
Pemikiran beliau bahkan memberikan pengaruh yang luas dalam diskursus ekonomi Islam dan pemikiran modern. Gagasan-gagasannya disebut telah menginspirasi lahirnya karya monumental seperti Iqtisaduna dan Falsafatuna yang ditulis oleh Muhammad Baqir al-Sadr. Kedua karya tersebut kemudian menjadi referensi penting dalam kajian filsafat dan ekonomi Islam kontemporer.
Jadi, sikap kritis ini merupakan upaya intelektual untuk mengembalikan kemandirian berpikir umat. Melalui pendekatan ini, umat Islam didorong untuk membaca pemikiran Barat secara kritis, dan meneguhkan kembali paradigma pemikiran Islam.
Lebih dari pada itu, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani bukan seorang oksidentalis yang hanya bergerak pada bidang pemikiran atau dunia akademik, tetapi tokoh politik pergerakan yang bekerja untuk kebangkitan umat. Bukan hanya memenangkan perdebatan intelektual, tetapi bagaimana agar pemikiran tersebut tegak dalam sistem kehidupan, yang dengan sendirinya akan menyingkirkan dominasi dan hegemoni Barat.
[Yuana Ryan Tresna, Faidah Bedah Kitab Sur’ah al-Badihah yang Alhamdulillah Selesai dalam 8 Kali Pertemuan]





