Kisah Para Utusan Negara pada masa Rasulullah Saw

Posted on

Setelah berhasil memantapkan dakwah di wilayah seluruh Hijaz, Rasulullah Saw mulai kemudian memperluas dakwahnya membawanya keluar Hijaz. Sebab Islam sebagai agama untuk semua ummat manusia dan Rasul saw diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam (Q.S Al-Anbiya : 107). Karena itu kemudian menjadi keharusan bagi Rasul saw setelah berhasil menguatkan daulah Islam di Madinah, memulai dakwah keluar, beliau menyampaikan dakwahnya melalui para duta besar, para utusan yang diutus untuk menyampaikan dakwah ke luar Hijaz. Selain itu hal ini juga dimaksudkan untuk membangun hubungan luar negeri dengan berbagai pihak kafir di luar teritorial pemerintahan beliau saw.

Ketika kemudian kekauasaan Rasul saw berada di wilayah seputar Madinah saja, maka hubungan beliau dengan kafir Quraisy dan orang-orang di luar Madinah sebagai hubungan luar negeri. Ketika kekuasaan Rasul telah meliputi seluruh Hijaz, maka hubungan beliau dengan pihak-pihak di luar Hijaz dianggap sebagai hubungan luar negeri pula. Dan taktkala kekuasaan beliau telah mencakup seluruh wilayah jazirah Arab maka kemudian hubungan dengan pihak-pihak diluar jazirah sebagai pihak eksternal sehingga hubungan ini dianggap pula sebagai hubungan luar negeri, yaitu hubungan dengan pihak Persia dan Romawi.

Setelah menandatangani perjanjian Hudaibiyah dan menyelesaikan masalah mengenai Khaibar, maka kekuasaan Rasul saw berhasil kemudian mencapai seluruh Hijaz. Hal itu karena pihak Quraisy tidak lagi memiliki kekuatan untuk kemudian menghadang dan berhadapan dengan Rasul saw. Dengan ini kemudian Rasul saw mengirimkan sejumlah utusan ke luar negeri. Dan beliua sudah mempertimbangkan hal ini, beliau tidak mengirimkan para duta besar tersebut kecuali setelah kondisi politik dalam negeri telah aman dan stabil. Kemudian juga beliau telah mempersiapkan kekuatan yang cukup untuk mendukung politik luar negerinya. Dan setelah kembalinya dari Khaibar, pada suatu hari beliau saw ke luar menemui para sahabatnya, lalu beliau bersabda, :

“Hai manusia, sesungguhnya Allah telah mengutusku sebagai rahmat dan untuk seluruh alam. Janganlah kalian menyalahiku sebagaiman Hawariyyun yang telah menyalahi ‘Isa bin Maryam.” Para sahabat berkomentar : “Bagaiman kaum Hawariyyun telah menyimpang, wahai Rasulullah ?” Beliau menjelaskan : “Dia (Isa bin Maryam) mengajak mereka kepada Dzat yang aku juga mengajak kalian kepada-Nya. Ridha dan menerima. Adapun siapa saja yang dia utus ke tempat yang jauh, maka dia memperlihatkan wajah tidak suka dan berat”.

Disebutkan bahwa beliau telah mengirimkan utusan kepada Hiraklius, Kisra, Muqauqis, al-Harits Al-Ghassaaniyah Raja Hirah, Al-Harits al-Himyariy Raja Yaman, Raja Najasyi di Habsyi, kerajaan ‘Amman, Kerajaan Yamamah dan Raja Bahrain. Beliau mengajak mereka untuk masuk Islam, maka para sahabatnya memenuhi permintaan beliau. Kemudian beliao membuat stempel yang terbuat dari perak yang terukir didalamnya : “Muhammad Rasul” . dengan surat yang dibawa oleh para utusan ini beliau mengajak mereka para Raja masuk Islam.

Surat Hiraklius, diserahkan beliau kepada ‘Abdullah bin Hadzafah as-Sahamiy, untuk an-Najasy diberikan kepada ‘Amru bin Umayyah al-Dhamiriy, untuk Muqauqis dikirimkan melalui Hathib bin Abi Abi Balta’ah, untuk Raja Yamamah diberikan kepada al-‘Alla’ bin al-Hadhramiy, untuk al-Harits al-Ghassaaniy, Raja Takhum Syam, diberikan kepada Syuja’ bin Wahab al-Asadiy dan untuk al-Harits al-Hamiry, raja Yaman, kepada al-Muhajir bin Abi Umayyah al-Makhzumiy.

Para utusan tersebut kemudian berangkat bersama-sama ke tempat tujuannya masing-masing sebagaimana telah Rasul saw perintahkan dan tetapkan pada mereka. Mereka berangkat dalam waktu yang bersamaan dan juga menyampaikan surat-surat Nabi saw tersebut kepada penguasa yang dituju, dan kemudian mereka kembali. Sebagian besar dari para Raja yang mendapatkan kiriman surat Rasul saw itu membalasnya dengan santun dan lembut dan sebagian lainnya membalasnya dengan buruk. Jawaban para raja Arab beragam, yaitu Raja Yaman dan Raja ‘Amman membalas surat Nabi saw dengan buruk, Raja Bahrain membalasnya dengan baik dan akhirnya dia memeluk Islam. Raja Yamamah membalasnya dengan menampakkan kesiapannya menerima Islam jika diberi kedudukan sebagai penguasa, maka Nabi melaknatnya karena ketamakannya itu. Sedangkan penguasa diluar bangsa Arab, jawaban mereka pun beragam. Kisra, Kaisar Persia, tak lama setelah sampai kepadanya surat Rasul saw yang berisi ajakan memeluk Islam, maka dengan serta merta ia marah dan merobek-robek surat beliau. Setelah itu, Kisra segera mengirimkan surat kepada Badzan, amilnya di wilayah Yaman, agar dia membawa kepala utusan Rasul yang sekarang ada di Hijaz kepadanya. Ketika kabar tentang ucapan Kisra dan perlakuan kasarnya terhadap surat itu sampai kepada Nabi saw, beliau mengutuk, “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya!”. Dan doa Rasul saw telah menjadi kenyataan bahwa Persia benar-benar telah lenyap kerajaannya di muka bumi saat ini. Ketika surat Kisra sampai kepada Badzan, amilnya di Yaman, maka dia memperbincangkan Islam dan akhirnya menyatakan keislamannya. Dan Badzan tetap tinggal di Yaman dan menjadi amil Nabi saw di Yaman, dan badzan ini adalah orang yang berbeda dengan Raja Yaman al-Harits al-Himiry. Sementara itu Raja Muqauqis, penguasa Qibthi, telah membalasnya dengan balasan yang indah dan ia mengirimkan hadiah kepada Nabi saw. Sedangkan Raja Najasyi membalas surat beliau dengan indah pula, dan bahkan dikatakan ia telah masuk Islam. Adapun Kaisar Hiraklius tidak mempedulikan ajakan ini, tidak berpikir untuk mengirim pasukan guna menyerang Muhammad, juga tak mengatakan apa-apa. Ketika al-Harits al-Ghassaaniy meminta izin kepadanya untuk memimpin pasukan menyerang penyeru nubuwwah, maka Hiraklius tidak memenuhi permintaannya tersebut. Dia mengundang al-Harits untuk menemuinya di Baitul Muqaddas.

Pengaruh nyata dari surat-surat yang telah disampaikan Nabi saw, melalui para utusan tersebut telah menjadikan banyak dari bangsa Arab mulai masuk kedalam agama Allah dengan berbondong-bondong, lalu diikuti pula dengan delegasi mereka yang berturut-turut menemui Rasul saw dan menyatakan kseislamannya. Sedangkan selain Arab, Rasul saw telah mulai menyiapkan kekuatan untuk melaksanakan jihad menghadapi mereka. Dan surat-surat yang telah disampaikan melalui utusan-utusan tadi ada yang kemudian dari para penguasa tadi menghormati para utusan tadi ada yang kemudian mendiamkan dan tidak menggubris utusan, dan ada pula yang bertindak kasar kepada para utusan dan hal ini akan tercermin pada kerajaan mereka yang kemudian akan runtuh seperti halnya Persia yang Allah robek-robek kekuasaanya hingga kini tak tersisa sedikitpun dan Romawi meskipun Romawi Timur sudah berhasil ditaklukkan namun Romawi Barat masih ada dan segera akan ditaklukkan pula sesuai kabar gembira dari Rasulullah saw dengan tegaknya Syariah dan Khilafah.

Para utusan tadi adalah duta besar negara, yang diutus Rasul saw, sehingga hal ini mematahkan pendapat jika Rasul saw tidak pernah bernegara atau mencontohkan ketatanegaraan. Anggapan ini adalah salah besar. Bahwa dalam perjalanannya Rasulullah saw adalah sebagai Nabi dan Rasul, juga sebagai kepala negara, kepala pemerintahan. Dengan mengadakan hubungan baik dalam negeri maupun luar negeri, dengan tujuan dakwah Islam kepada seluruh alam.