Dalam catatan sejarah perjuangan bangsa, kita mengenal sebuah istilah yang menyimpan luka emosional tersendiri: Londo Ireng. Istilah ini dahulu disematkan kepada saudara sebangsa yang memilih berpihak pada kaum penjajah—mengenakan seragam yang sama, menggenggam senjata yang sama, namun mengarahkannya ke dada saudaranya sendiri. Mereka adalah sosok yang tubuhnya lahir di tanah warisan leluhurnya, tetapi jiwanya telah tergadaikan oleh kepentingan diri dan kesenangan sesaat.
Hari ini, kolonialisme fisik mungkin telah angkat kaki dari bumi tempat kita berpijak. Bendera asing tidak lagi berkibar menguasai benteng-benteng kita. Namun, karakter Londo Ireng tidak pernah benar-benar lenyap. Karakter itu tidak mati, melainkan hanya berganti pakaian. Londo Ireng modern tidak lagi diukur dari seragam militer atau kedekatannya dengan penguasa asing, melainkan dari sebuah nilai mendasar yang bersemayam di dalam dada: egoisme mutlak. Ia adalah metafora bagi siapa saja yang hanya berpikir tentang dirinya sendiri, jabatannya sendiri, dan keuntungan pribadinya, dengan mengorbankan kepentingan bersama. Yang menyedihkan, karakter ini tidak memiliki kelas sosial tunggal. Ia bisa ada di mana saja—duduk nyaman di kursi pemerintahan maupun berdiri riuh di tengah-tengah rakyat biasa.
Wajah Londo Ireng dalam Pusaran Kekuasaan
Ketika tabiat Londo Ireng mendapat ruang dalam sistem pemerintahan, ia menjadi benalu yang menggerogoti tiang-tiang bernegara dari dalam. Bagi sosok dengan jiwa seperti ini, kekuasaan dan jabatan bukanlah sebuah kewajiban mulia untuk melayani, melainkan benteng pertahanan dan mesin pemuas ambisi pribadi. Di meja pimpinan, keberadaannya menjelma dalam perilaku yang korup dan manipulatif. Anggaran negara tidak lagi dipandang sebagai keringat rakyat yang harus dikembalikan dalam bentuk kesejahteraan, melainkan sebagai kue yang harus dibagi-bagi demi mengamankan posisi diri dan kelompoknya sendiri.
Karakter Londo Ireng di dalam pemerintahan juga sangat mudah dikenali dari ketidakmampuannya untuk bertanggung jawab. Ketika sebuah kebijakan gagal atau krisis menyapa, jarinya akan dengan cepat menunjuk ke pihak lain demi menyelamatkan mukanya sendiri. Ia mengabaikan etika dan mengidap penyakit alergi terhadap kritik. Tatapan matanya tertutup oleh keangkuhan dan telinganya tertutup rapat dari jeritan rakyat bawah. Kritik yang masuk akal sekalipun akan dianggap sebagai ancaman atau bentuk pembangkangan. Pada akhirnya, seluruh energinya habis hanya untuk mempertahankan jabatan serta menguntungkan lingkarannya sendiri.
Londo Ireng di Tengah Barisan Rakyat
Namun, sangat tidak adil jika kita membayangkan bahwa penyakit mental ini hanya derita para pemangku kuasa. Londo Ireng tidak monodominasi para pejabat, sebab di tingkat rakyat biasa, karakter ini dapat tumbuh subur dan menampakkan wajah yang tak kalah merusaknya. Ketika wujud Londo Ireng bersatu dengan masyarakat awam, ia menjelma menjadi sosok yang sangat berisik, namun tanpa kedalaman hati nurani. Ia rajin bersuara, tetapi suaranya bukan bertujuan memperbaiki keadaan, melainkan untuk menciptakan kekacauan dan mengganggu ketentraman.
Lisan dan tindakan Londo Ireng di tingkat warga selalu dibalut oleh niat untuk menjatuhkan orang lain. Ia tidak pernah menginginkan kebaikan atau kedamaian sungguh-sungguh, sebab dalam suasana yang tenang dan tertata, ruang baginya untuk mengambil manfaat pribadi menjadi sempit. Semakin keruh airnya, semakin besar peluang untuk itu. Ia tidak suka melihat orang lain mendapat kebaikan, sehingga berharap seluruh fasilitas dan kemudahan hanya mengalir ke dalam hidupnya sendiri.
Membedakan Nurani dan Pengkhianatan
Kita harus sangat hati-hati dalam menarik garis batas agar tidak terjebak generalisasi yang dangkal. Kita tidak boleh menganggap semua suara kritis sebagai wujud Londo Ireng. Ada perbedaan setipis benang namun sedalam samudra antara seorang Londo Ireng dan seorang warga negara yang kritis karena cinta. Masyarakat yang menyuarakan teguran karena rasa peduli, rasa cinta tanah air, dan didasari tanggung sosial yang tinggi, bukanlah Londo Ireng. Justru mereka itulah benteng pertahanan moral bangsa ini.
Orang yang mengkritik karena cinta akan menyampaikan koreksi dengan harapan adanya perbaikan. Suaranya mungkin terdengar tajam, tetapi di balik ketajamannya, ada duka yang dalam melihat ketidakadilan dan niat yang murni agar rumah ini menjadi lebih baik. Antara itu, Londo Ireng mengkritik dengan harapan melihat rumah itu roboh, agar ia bisa mengambil sisa-sisa reruntuhannya untuk bangun istana sendiri. Bedanya tidak terletak pada seberapa keras suara itu terdengar, melainkan pada niat dasar: yang satu berjuang demi keadilan bersama, yang lain bertindak demi setelah ego pribadi.
Sebuah Cermin untuk Diri Sendiri
Fenomena Londo Ireng adalah cermin besar yang dipasang di hadapan kita sebagai sebuah bangsa. Ia mengingatkan kita bahwa musuh terbesar suatu bangsa sering kali bukan dari luar, melainkan dari dalam jiwa manusia-manusianya sendiri yang telah kehilangan empati dan rasa kebersamaan. Londo Ireng bisa menyusup ke dalam diri siapa saja, sembunyi di balik jas mewah seorang pejabat, di balik seragam kerja seorang pegawai, maupun di balik status dan celoteh di media sosial. Ia siap merayapi siapa pun yang mulai berpikir bahwa kepentingan pribadinya lebih penting dari keselamatan rakyat banyak.
Menghadapi kenyataan ini, hal terpenting yang harus dilakukan adalah introspeksi diri terus-menerus. Kita perlu bertanya pada hati nurani masing-masing posisi dan peran yang sedang kita letakkan hari ini. Apakah tindakan kita ada didasar rasa peduli dan tanggung jawab, atau tanpa sadar kita sedang memelihara tabiat Londo Ireng dalam skala kita masing-masing? Sebab pada akhirnya, sejarah mencatat dengan jujur siapa yang tulus membangun dan siapa yang gagal merusak demi ego.
Jadi, jangan-jangan Londo Ireng adalah kita sendiri. Saatnya introspeksi.
Wallahu a’lam.




