Sebagai kaum intelektual yang terbiasa berpikir kritis, kita sering kali mendapati bahwa pembicaraan mengenai agama terkadang hanya berhenti pada aspek ritualitas belaka. Padahal, jika kita membedah lebih dalam, setiap momentum dalam kalender Hijriah memiliki dimensi ideologis dan politis yang sangat kuat. Salah satu topik yang paling fundamental untuk didiskusikan adalah eksistensi Baitul Maqdis dan hubungannya dengan Rajab.
Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa isu Palestina selalu menguat setiap kali kita memasuki bulan Rajab? Apakah ini hanya kebetulan sejarah, ataukah ada pakta spiritual dan politik yang mengikat keduanya? Dalam artikel ini, kita akan melakukan dekonstruksi terhadap pemahaman seremonial dan merekonstruksinya menjadi sebuah kesadaran strategis mengenai tanggung jawab kita sebagai bagian dari umat Islam global terhadap Masjidil Aqsha.
Rajab sebagai Prelude Kesadaran Geopolitik
Dalam paradigma berpikir Islam, Rajab dikenal sebagai salah satu dari empat bulan haram (al-asyhur al-hurum). Secara terminologi, bulan haram adalah waktu di mana kehormatan jiwa dan tanah suci dijunjung tinggi. Namun, bagi mahasiswa yang jeli melihat realitas, ada kontradiksi yang menyakitkan: di bulan yang suci ini, Baitul Maqdis justru masih berada di bawah cengkeraman penjajahan yang tidak mengenal batas kemanusiaan.
Kaitan antara Baitul Maqdis dan hubungannya dengan Rajab tidak bisa dipisahkan dari konsep triwulan emas: Rajab, Syakban, dan Ramadan. Jika Ramadan adalah masa untuk meraih kemenangan besar, maka Rajab adalah fase kritis untuk menanamkan benih kesadaran ideologis. Tanpa pemahaman yang benar di bulan Rajab, kemenangan di bulan Ramadan hanyalah impian semu. Rajab menuntut kita untuk meninjau kembali jati diri umat, arah perjuangan, dan bagaimana posisi Masjidil Aqsha dalam peta peradaban masa depan.
Isra Mi’raj: Proklamasi Kepemimpinan Islam di Palestina
Peristiwa Isra Mi’raj yang terjadi pada 27 Rajab sering kali hanya dibahas dari sisi mukjizat perjalanan fisik Nabi Muhammad saw. Namun, dari sudut pandang analisis strategis, perjalanan ini adalah sebuah deklarasi politik tingkat tinggi. Allah SWT memilih Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis sebagai titik singgah sebelum Rasulullah naik ke Sidratul Muntaha. Hal ini secara otomatis menetapkan Palestina sebagai bagian integral dari akidah Islam, bukan sekadar tanah sengketa antar-etnis.
Transfer Otoritas Kepemimpinan
Momen paling ikonik dalam peristiwa tersebut adalah ketika Rasulullah saw. memimpin salat sebagai imam bagi seluruh nabi terdahulu. Secara semiotika politik, ini melambangkan penyerahan otoritas kepemimpinan dunia dari nabi-nabi Bani Israil kepada kepemimpinan Ummah Muhammad. Sejak malam itu, otoritas penuh atas Baitul Maqdis secara spiritual dan politis berada di tangan umat Islam. “Tuan rumah” sejati bagi tanah suci tersebut adalah mereka yang memegang teguh risalah Islam.
Melawan Kolonialisme Pikiran
Saat ini, ada upaya sistematis melalui media dan institusi pendidikan untuk melakukan “pembersihan makna” terhadap isu Palestina. Isu ini sering kali ditarik menjadi sekadar masalah hak asasi manusia universal atau konflik perbatasan biasa. Dengan memahami Baitul Maqdis dan hubungannya dengan Rajab, kita sebenarnya sedang melakukan perlawanan terhadap kolonialisme pikiran (colonialism of the mind). Kita menegaskan bahwa membela Palestina adalah konsekuensi langsung dari keimanan kita kepada peristiwa Isra Mi’raj.
Rajab dalam Catatan Futuhat dan Luka Sejarah
Jika kita menelusuri sejarah klasik hingga modern, Rajab selalu menjadi bulan di mana garis waktu Palestina berubah secara drastis. Ada dua sisi koin yang harus kita pelajari: sisi kemenangan yang gemilang dan sisi luka yang mendalam. Keduanya sangat berkaitan dengan kuat atau lemahnya persatuan politik umat Islam.
Pertama, kita mencatat kemenangan besar di Perang Yarmuk yang terjadi di bulan Rajab tahun 15 Hijriah. Kemenangan ini adalah pembuka jalan bagi Khalifah Umar bin Khattab untuk menerima kunci Baitul Maqdis secara damai. Kemudian, tepat pada 27 Rajab 583 Hijriah, Sultan Salahuddin Al-Ayyubi berhasil membebaskan kembali Masjidil Aqsha dari tentara Salib setelah hampir seabad dijajah. Tanggal yang sama dengan peristiwa Isra Mi’raj ini seolah menjadi isyarat bahwa pembebasan Baitul Maqdis adalah misi abadi umat di bulan Rajab.
Tragedi Runtuhnya Perisai Umat
Namun, mahasiswa juga tidak boleh lupa pada tanggal 28 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924. Di bulan yang sama dengan kemenangan Salahuddin, umat justru kehilangan institusi pelindungnya: Khilafah Utsmaniyah. Runtuhnya institusi ini adalah akar masalah mengapa hari ini Palestina tidak memiliki pembela yang nyata. Tanpa adanya perisai politik global, wilayah Islam terpecah menjadi puluhan negara bangsa yang lemah, sementara Baitul Maqdis dibiarkan menjadi rampasan bagi entitas asing. Ini adalah sisi gelap dari Baitul Maqdis dan hubungannya dengan Rajab yang harus memicu diskusi kritis di ruang-ruang kuliah.
Membangun Kembali Perisai: Solusi Sistemik bagi Al-Aqsha
Analisis kita tidak boleh hanya berhenti pada nostalgia sejarah. Sebagai mahasiswa, kita dituntut memberikan solusi yang solutif dan sistemik. Realitas hari ini menunjukkan bahwa bantuan logistik dan diplomasi PBB tidak cukup untuk menghentikan genosida di Gaza atau penistaan di Al-Aqsha. Masalah Palestina adalah masalah pendudukan militer dan politik, maka solusinya pun harus bersifat politik dan militer.
Untuk memulihkan kedaulatan di Baitul Maqdis, umat Islam memerlukan dua hal mutlak: institusi yang menyatukan kekuatan seluruh negeri muslim dan pemimpin yang memiliki keberanian untuk memobilisasi tentara demi membela tanah suci. Inilah yang dalam literatur Islam disebut sebagai Khilafah. Mengaitkan peringatan Rajab dengan kewajiban menegakkan kembali institusi pemersatu ini adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa Isra Mi’raj bukan sekadar dongeng sebelum tidur, melainkan spirit perjuangan yang nyata.
Tabel Peristiwa Strategis: Baitul Maqdis & Rajab
| Peristiwa Sejarah | Waktu (Rajab) | Makna Strategis bagi Mahasiswa |
|---|---|---|
| Mukjizat Isra Mi’raj | 27 Rajab | Peneguhan Aqidah bahwa Al-Aqsha adalah tanah suci Islam. |
| Kemenangan Perang Yarmuk | Rajab 15 H | Bukti bahwa strategi militer Islam mampu mengalahkan imperium besar. |
| Pembebasan oleh Salahuddin | 27 Rajab 583 H | Simbol persatuan umat sebagai kunci pembebasan Palestina. |
| Keruntuhan Khilafah | 28 Rajab 1342 H | Titik awal hilangnya perlindungan bagi Baitul Maqdis. |
Mahasiswa: Memilih Antara Rutinitas atau Kebangkitan?
Memahami Baitul Maqdis dan hubungannya dengan Rajab adalah langkah pertama bagi mahasiswa untuk keluar dari jebakan pragmatisme. Rajab adalah pengingat bahwa kita pernah memimpin dunia dengan keadilan, dan kita kehilangan kepemimpinan itu karena hilangnya persatuan politik. Palestina tidak butuh air mata kita; ia butuh kesadaran politik dan keberanian kita untuk menyuarakan kebenaran Islam yang kaffah.
FAQ tentang Baitul Maqdis dan Hubungannya dengan Rajab
1. Apa hubungan paling krusial antara Rajab dan Baitul Maqdis?
Hubungan utamanya ada pada peristiwa Isra Mi’raj yang terjadi pada 27 Rajab, di mana Masjidil Aqsha ditetapkan sebagai titik Mi’raj Nabi ke langit. Selain itu, pembebasan Palestina oleh Salahuddin Al-Ayyubi juga terjadi tepat pada 27 Rajab.
2. Mengapa mahasiswa harus memahami sejarah Rajab dalam konteks Palestina?
Karena pemahaman sejarah di bulan Rajab membantu mahasiswa melihat akar masalah Palestina secara sistemik, yaitu akibat hilangnya pelindung politik umat (Khilafah) yang runtuh juga di bulan Rajab.
3. Apakah benar Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan Palestina di bulan Rajab?
Ya, benar. Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan Baitul Maqdis dari tangan Tentara Salib pada tanggal 27 Rajab tahun 583 H, memberikan kemenangan moral yang besar bagi umat Islam.
4. Apa makna strategis Nabi menjadi Imam bagi para nabi di Masjidil Aqsha?
Hal itu bermakna transfer kepemimpinan peradaban dunia kepada umat Islam. Ini menegaskan bahwa umat Islam adalah penjaga sah dan pemimpin bagi wilayah Palestina dan Baitul Maqdis.
5. Apa solusi jangka panjang untuk membebaskan Baitul Maqdis menurut analisis Rajab?
Solusi jangka panjangnya adalah mengembalikan persatuan politik umat Islam di bawah kepemimpinan global (Khilafah) yang mampu menggerakkan kekuatan riil untuk mengakhiri pendudukan di Palestina.
Disarikan dari video Ini





